Make your own free website on Tripod.com
  Kisah Nyata dari Madura
   From:    sebastian@tjp.toshiba.co.jp 
   Date:    Fri, 27 Apr 2001 06:30
   -----Original Message-----
   From:           Wima Hendika
   Sent:           25 April 2001 9:42
   Subject:        Mohon bantuan & agar disebarluaskan   

Inilah Indonesia......

Mohon Bantuannya....
Gue mau minta tolong... jadi ceritanya gini... hari minggu kemaren gue
baru balik dari Sampang (Madura), gue kesana sebagai utusan organisasi 
untuk menyerahkan bantuan untuk para pengungsi dari Sampit. Tapi gue 
bener2 terpukul setibanya gue disana. Bayangkan... hampir 70.000 orang 
yang ngungsi ke Sampang dan semuanya benar2 butuh bantuan kita. Gue 
ngeliat sendiri gimana penanganan Pemda setempat. Kita tidak bisa 
mengandalkan bantuan mereka. Malahan, mereka sibuk dengan 
kepentingannya sendiri. Begitu pula organisasi. Terus terang gue malu 
datang kesana dengan membawa bendera organisasi.
Disana gue ngeliat ada posko yang terjun langsung ke lapangan untuk
memberi bantuan (kalo cara kerjanya pemda dan ormas jauh bgt dari yang 
namanya terjun ke lapangan). Bahkan ada fenomena dimana pemda 
setempat masih berusaha untuk mengeruk keuntungan dari kondisi ini, 
contohnya untuk dapur umum. Beras itu disubsidi tapi di anggaran belanja 
pengungsi ada nota untuk beras sekian kuintal (bayangkan!!!, belum lagi 
telur dan mie instan yang dikorupsi...). Sedih banget deh pokoknya kalo 
ngeliat kondisi disana.
Seharusnya gue menceritakan kondisi para pengungsi, tapi terus terang
gue gak bisa ngungkapinnya dengan kata2. Kondisi mereka benar2 parah. 
Ada dua kecamatan yang saat ini sedang terjangkit penyakit Lepra. 
Gimana ceritanya yah...
Mungkin gue mulai ceritanya dari awal kali yah...para pengungsi itu
didatangkan dari Sampit dengan kapal TNI AL dan mereka berlabuh di 
Pelabuhan Surabaya. Setelah itu mereka menyeberang ke Sampang dan 
sampainya di Pelabuhan Madura mereka dinaikkan ke atas truk dengan 
tujuan masing2. Sebagian besar (68.000 orang) menuju Sampang 
Sebagian besar dari mereka sebenarnya belum pernah ke Madura meski 
mereka berdarah Madura. Mereka lebih menganggap diri mereka orang 
Kalimantan keturunan Madura. 
Sampai di Sampang, mereka diturunkan di daerah-daerah yang sekiranya 
masih kosong (disebar ke 13 kecamatan) dan mereka diharapkan bertahan 
hidup sendiri. Biasanya mereka menuju hutan dan menebang pohon 
untuk dibuat rumah (namun kondisi sanitasinya tidak dapat diandalkan, 
ditambah lagi dengan kondisi air Madura yang pada dasarnya kurang baik 
karena  mengandung terlalu banyak garam.
Kondisi terbaik yang gue temuin adalah 2 keluarga besar (yang satu
dengan anggota 18 orang, itu termasuk cucu, dan yang satu lagi anggota 
keluarga inti dengan anak sebanyak 9 orang dengan anak terkecil baru 
berumur 2 bulan, si anak bungsu lahir di kapal TNI AL). 
Bayangkan 29 orang tinggal bersama dalam satu ruangan bekas 
menggiling padi ukuran 3X4 meter. Mereka tidak memiliki kamar mandi, 
mereka menadah air hujan untuk diminum, mereka tidak mempunyai 
pakaian karena mereka tidak sempat membawa apa2 dari Sampit.
Tapi ada yang mungkin lucu... ayah dari 9 anak itu mengenakan jaket
kulit yang sangat bagus dan menurut gue mahal.. gue iseng nanya itu 
jaket sempet bawa dari Sampit yah? Dia jawab.. nggak bak (bak = mbak  
kalo di madura), ini jaket pemberian kapten kapal. Saya waktu itu gak 
sempat berpakain karena saya terburu2 dan istri saya mau melahirkan. 
Saya hanya mengenakan celana pendek. Jaket ini hadiah dari kapten kapal 
ketika istri saya melahirkan (dia ngerti bahas indonesia tapi gak bisa 
ngejawab pake bahasa indonesia, jadi kalimat dia di atas hasil terjemahan 
dari kepala posko yang nemenin gue dkk kesana.)
Yang paling menyedihkan, ada yang memakan beras dalam kondisi mentah
karena mereka tidak memiliki kompor dan bahkan terlalu miskin untuk 
membeli minyak tanah untuk membuat unggun. Mereka juga terlalu miskin 
untuk membeli pembalut sehingga wanita yang sedang haid menjadi 
masalah tersendiri bagi mereka. Di beberapa komunitas, wanita yang 
sedang haid terpaksa menjauhi kelompoknya karena laler akan bergerombol 
didekatnya dan kebayang kan gimana kondisinya (maaf kalo gue terlalu 
vulgar).
Gue bener2 terpuruk ketika gue pindah kecamatan dan disana gue 
menghadapi kondisi yang lebih buruk lagi. Mereka belum menemukan atau 
membuat rumah layak huni. Mereka menggelar tikar yang diberikan oleh 
posko dan tidur bertumpuk2 di atasnya. Disana ada seorang ibu2 yang 
menggendong anaknya (2 tahunan) dan menghampiri gue trus bilang, 
["Bu, tolong saya... saya tidak  ingin  anak saya hidup seperti ini... 
tolong rawat anak saya... saya ingin dia  bahagia..."]. 
Saat itu gue gak bisa ngomong apa2 Gue cuman bisa  nangis dan marah 
sama sistem yang turut mempersulit kehidupan mereka. 
Kita gak bisa diem aja menunggu pemerintah membereskan semuanya Kita 
juga bisa ikut ambil bagian di dalamnya. Kita bisa membantu mereka 
dengan memberikan bantuan semampu kita. Temen2, masih banyak lagi 
kondisi yang belum gue paparin.. gue gak tau gimana caranya maparin 
kondisi tersebut. Gue minta tolong temen2 untuk membantu apa aja. Bisa 
uang atau juga barang. 
Awal mei nanti gue mau kesana lagi karena tanggal 15-27 April ini gue 
harus mengikuti kegiatan ttg diaolog antar agama dan gue akan mencoba 
untuk mencari bantuan dari orang-orang yang akan gue temui nanti di 
dialog tersebut. Kemaren ada 3 badan yang bersedia melepaskan bendera 
organisasinya dan membantu para pengungsi melalui jalur posko (bukan 
pemda yang sangat birokratis), yang pertama itu dari Yayasan Panti Rapih
plus relawan2 Yogya, yang kedua Relawannya Romo Sandi yang terdiri dari 
mahasiswa Brawijaya dan IKIP Malang, yang terakhir relawan2 dari Blitar.  
Gue juga butuh bantuan mengenai trauma center untuk para pengungsi 
karena trauma center yang saat ini sudah ada nampaknya kurang berhasil. 
Tolong teman2 bantu para pengungsi ini... mereka 
benar2 butuh uluran tangan teman2.  Bantuan apa aja pasti diterima.
Di bawah ini gue lampirin daftar barang-barang yang sangat diperlukan 
oleh para pengungsi pada umumnya berdasarkan survei yang diadakan 
oleh Posko Kemanusiaan :
	  1. Terpal
	  2. Handuk
	  3. Perlengkapan mandi (sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampoo)
	     + gayung
	  4. Beras, gula, minyak goreng
	  5. Lauk pauk (yang tahan lama dan awet)
	  6. Peralatan masak dan makan
	  7. Lampu teplok
	  8. Minyak tanah
	  9. Makanan tambahan untuk bayi dan anak-anak
	 10. Pakaian dalam pria dan wanita
	 11. Al Qur'an
	 12. Mukena
	 13. Sarung
	 14. Seragam sekolah
	 15. Sepatu, sandal
	 16. Tas sekolah
	 17. Alat tulis dan buku
	 18. Kantung plastik besar
	 19. Deterjen
	 20. Pembalut wanita
	 21. Ember
	 22. Bubur bayi
	 23. Susu
	 24. Bumbu masak (instant)

Kalo temen2 mau mencari informasi, temen2 bisa menghubungi
Posko Relawan Kemanusiaan Sampang
Jl. Kusuma Bangsa no 13 Sampang
Telp. 0323 - 324324
Email : posko_relawan@hotmail.com

Posko itu 24 jam buka terus... jadi temen2 bisa ngehubungin kapan aja.
Please yah temen2 bantuin para pengungsi itu..  mereka membutuhkan
teman-teman semua....
Semoga penuturan gue yang acak kadul ini cukup bisa mengetuk hati 
temen2 semua dan gue sangat berterima kasih kalo temen2 mau menyebar
luaskan informasi ini ke teman-teman yang lain. bantuan apa pun pasti 
diterima dengan senang hati... 
Semoga Yang Maha Kuasa membalas kebaikan teman-teman semua. 
Amin...
Wass,
PINKY